Hampir satu bulan sejak terakhir menuliskan kesan di blog ini. Suka, duka, silih berganti mewarnai hari. Apapun itu, semuanya indah. Menjadi romantika tersendiri. Ada hal-hal yang pada waktu terjadi, sangat sulit untuk diterima dengan gembira. Namun pada akhirnya, akan menjadi lelucon yang menghibur saat penat menerpa. Ada peristiwa-peristiwa konyol. Ada juga hentakan-hentakan yang menggembirakan. Semuanya, begitu indah mewarnai hari-hariku.
Tanggal 15 Februari 2012 kemarin, Kegiatan Peringatan Maulud Nabi Muhammad saw 1433 H digelar di SD Negeri Kaliwungu 03. Meriah. Sayang sekali, saya belum terampil mengupload fotonya. Jadi, untuk sementara, belum bisa dishare dengan teman-teman. Besok, 18 Februari 2012, Insya Allah juga akan digelar kegiatan Peringatan Maulud Nabi Muhammad saw di SD Negeri Kaliwungu 01. Di SD 03, acara dikemas dalam bentuk lomba-lomba. Ada lomba mewarnai untuk kelas I, II, dan III. Lalu, lomba menyusun Mading untuk kelas IV, V, dan VI.
Di SD 01, acara dikemas dalam dua bentuk. Diawali kemarin (Selasa, 14 Februari 2012) dengan diselenggarakannya lomba-lomba, lalu puncaknya (18 Februari 2012) akan digelar pengajian.
Hmm, satu pekan yang penuh nuansa kerasulan. Semoga, nuansa profetik ini akan terus membekas. Bukan hanya dalam 1 pekan ini, namun untuk esok dan seterusnya. Amin...
Kamis, 16 Februari 2012
Rabu, 25 Januari 2012
INDAHNYA.....
Apakah yang kau rasakan, ketika sebuah pekerjaan selesai dikerjakan?
Apakah yang kau rasakan, ketika yang dirasa sebagai beban, berhasil diselesaikan?
Apakah yang kau rasakan, ketika apa yang diangankan dan dicita-citakan, berhasil diraih?
Rasanya, dunia ini telah berada dalam genggaman.
Demikianlah yang saya rasakan, setidaknya saat ini. Masih tertulis di papan Program Kegiatan Kepala Sekolah, tanggal 3 Januari 2012, akan dilaksanakan kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) di SD Negeri Kaliwungu 03 ini. Dan, ternyata, kegiatan tersebut baru benar-benar terlaksana tanggal 24 Januari 2012 kemarin. Rasanya lega. Entah apapun nilai yang didapat nantinya, yang jelas, kegiatan berlembur-lembur yang dilakukan selama hampir 3 minggu ini, terbayar sudah. Dan sebenarnya, semua tidak selayaknya berhenti di sini. Saat lembur, kami berusaha mati-matian, mempersiapkan semuanya, agar hasil PKKS bisa maksimal. Dan alangkah sayangnya, bisa usaha dan kerja keras yang telah dilakukan kemarin-kemarin, hanya berhenti di sini. Adanya penilaian, bukanlah akhir dari semua usaha dan kerja keras untuk menjadi yang terbaik. Seperti kata Bu Suyati kemarin, penilaian, hakikatnya awal dari perjuangan selanjutnya. Dari hasil penilaian, dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya. Nah, dari sanalah, idealnya, perbaikan dan peningkatan untuk bisa terus dilaksanakan, guna peningkatan mutu manajemen, mutu administrasi, mutu sekolah dan mutu pendidikan di waktu-waktu yang akan datang. Hmm, demikianlah tentang PKKS.
Sekarang, beralih ke hal lain yang juga tak kalah indahnya. Cihui, di SD Negeri Kaliwungu 03, sekarang, dipasang internet. Hari Ahad, tanggal 22 Januari 2012 kemarin, dipasang. Targetnya, tanggal 24 Januari 2012 sudah bisa diperlihatkan kepada asesor sebagai salah satu bukti fisik dari program-program sekolah. Dan Alhamdulillah, tanggal 24 Januari 2012 kemarin, benar-benar sudah jadi. Dan saat ini, jam ini, saya sedang memulai menikmati keberadaan jaringan internet di sekolah. Wah, indah sekali. Bila merunut pada cerita teman-teman guru dan Kepala Sekolah mengenai sejarah SD Negeri Kaliwungu 03 pada waktu itu, beberapa tahun yang lalu, sungguh tak terlintas dalam benak, bahwa akan ada jaringan internet di sini. Sekolah yang hampir diregrouping, gedung yang hampir roboh, akses masuk yang sulit, mebeler yang sangat kurang, kantor yang memprihatinkan, dan lain sebagainya. Namun, Al-hamdulillah. Keajaiban selalu menyertai setiap usaha. Benar sekali apa yang telah diinformasikan oleh Allah, "Maka, sungguh, dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh, dalam kesulitan ada kemudahan". Keberadaan SD Negeri Kaliwungu 03, dari yang waktu itu semacam itu, hingga hari ini yang semacam ini, pastilah semua tak lepas dari usaha dan kerja keras segenap unsur yang terlibat di dalamnya. Dan memang, harus ada motor yang sanggup menggerakan segenap komponen yang ada, hingga lahirlah kondisi yang lebih baik, sesuai dengan yang diharapkan. Subhanalloh!
Lalu, saya juga jadi teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di Kecamatan Kedungreja ini. Tak terbayang saat itu, bahwa akhirnya saya bisa membaur dengan anak-anak, dengan situasi dan kondisi di sini. Jujur, saya akui, saya belum bisa seutuhnya beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di sini, meskipun sudah cukup lama bilangan waktu yang saya habiskan di sini. Terhitung, sejak bulan Juni 2009. Namun, meski demikian, saya tetap bersyukur, bahwa meskipun saya tidak bisa sepenuhnya membaur, masyarakat di sini tetap care pada saya. Memang tidak bisa sepenuhnya seperti keluarga sendiri; saya juga sering merasa bingung saat dihadapkan pada situasi yang menuntut pengambilan keputusan tindakan paling tepat pada situasi tertentu di masyarakat; namun senyum yang terkembang dari mereka saat berpapasan, keramahan mereka, menunjukkan bahwa keberadaan saya, sedikit banyak diterima. Saya ingin berbuat sesuatu di sini, terutama untuk anak-anak. Namun masih bingung, harus memulai dari mana. Hehehe..... Begitulah. Dan ternyata, Allah mempertemukan saya dengan bumi Kedungreja ini, membawa sebegitu banyak hikmah yang dapat saya jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan ini. Terutama, yang paling saya rasakan adalah, sebuah pelajaran berharga: Bila ingin maju, jangan ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kesalahan dan kegagalan itu biasa. Jadikan itu sebagai bahan berharga untuk memperbaiki diri, mengawali hal-hal baru lainnya yang lebih baik, tanpa harus mengulangi kesalahan dan kegagalan serupa.
Perkembangan dan peningkatan ini, tak boleh berhenti hanya sampai di sini. Mari, terus berkarya. Untuk peningkatan kinerja kita sendiri, untuk peningkatan sekolah, untuk peningkatan mutu pendidikan di tanah air secara umum.
Bravo SD Negeri Kaliwungu 03!
Apakah yang kau rasakan, ketika yang dirasa sebagai beban, berhasil diselesaikan?
Apakah yang kau rasakan, ketika apa yang diangankan dan dicita-citakan, berhasil diraih?
Rasanya, dunia ini telah berada dalam genggaman.
Demikianlah yang saya rasakan, setidaknya saat ini. Masih tertulis di papan Program Kegiatan Kepala Sekolah, tanggal 3 Januari 2012, akan dilaksanakan kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) di SD Negeri Kaliwungu 03 ini. Dan, ternyata, kegiatan tersebut baru benar-benar terlaksana tanggal 24 Januari 2012 kemarin. Rasanya lega. Entah apapun nilai yang didapat nantinya, yang jelas, kegiatan berlembur-lembur yang dilakukan selama hampir 3 minggu ini, terbayar sudah. Dan sebenarnya, semua tidak selayaknya berhenti di sini. Saat lembur, kami berusaha mati-matian, mempersiapkan semuanya, agar hasil PKKS bisa maksimal. Dan alangkah sayangnya, bisa usaha dan kerja keras yang telah dilakukan kemarin-kemarin, hanya berhenti di sini. Adanya penilaian, bukanlah akhir dari semua usaha dan kerja keras untuk menjadi yang terbaik. Seperti kata Bu Suyati kemarin, penilaian, hakikatnya awal dari perjuangan selanjutnya. Dari hasil penilaian, dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya. Nah, dari sanalah, idealnya, perbaikan dan peningkatan untuk bisa terus dilaksanakan, guna peningkatan mutu manajemen, mutu administrasi, mutu sekolah dan mutu pendidikan di waktu-waktu yang akan datang. Hmm, demikianlah tentang PKKS.
Sekarang, beralih ke hal lain yang juga tak kalah indahnya. Cihui, di SD Negeri Kaliwungu 03, sekarang, dipasang internet. Hari Ahad, tanggal 22 Januari 2012 kemarin, dipasang. Targetnya, tanggal 24 Januari 2012 sudah bisa diperlihatkan kepada asesor sebagai salah satu bukti fisik dari program-program sekolah. Dan Alhamdulillah, tanggal 24 Januari 2012 kemarin, benar-benar sudah jadi. Dan saat ini, jam ini, saya sedang memulai menikmati keberadaan jaringan internet di sekolah. Wah, indah sekali. Bila merunut pada cerita teman-teman guru dan Kepala Sekolah mengenai sejarah SD Negeri Kaliwungu 03 pada waktu itu, beberapa tahun yang lalu, sungguh tak terlintas dalam benak, bahwa akan ada jaringan internet di sini. Sekolah yang hampir diregrouping, gedung yang hampir roboh, akses masuk yang sulit, mebeler yang sangat kurang, kantor yang memprihatinkan, dan lain sebagainya. Namun, Al-hamdulillah. Keajaiban selalu menyertai setiap usaha. Benar sekali apa yang telah diinformasikan oleh Allah, "Maka, sungguh, dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh, dalam kesulitan ada kemudahan". Keberadaan SD Negeri Kaliwungu 03, dari yang waktu itu semacam itu, hingga hari ini yang semacam ini, pastilah semua tak lepas dari usaha dan kerja keras segenap unsur yang terlibat di dalamnya. Dan memang, harus ada motor yang sanggup menggerakan segenap komponen yang ada, hingga lahirlah kondisi yang lebih baik, sesuai dengan yang diharapkan. Subhanalloh!
Lalu, saya juga jadi teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di Kecamatan Kedungreja ini. Tak terbayang saat itu, bahwa akhirnya saya bisa membaur dengan anak-anak, dengan situasi dan kondisi di sini. Jujur, saya akui, saya belum bisa seutuhnya beradaptasi dengan lingkungan masyarakat di sini, meskipun sudah cukup lama bilangan waktu yang saya habiskan di sini. Terhitung, sejak bulan Juni 2009. Namun, meski demikian, saya tetap bersyukur, bahwa meskipun saya tidak bisa sepenuhnya membaur, masyarakat di sini tetap care pada saya. Memang tidak bisa sepenuhnya seperti keluarga sendiri; saya juga sering merasa bingung saat dihadapkan pada situasi yang menuntut pengambilan keputusan tindakan paling tepat pada situasi tertentu di masyarakat; namun senyum yang terkembang dari mereka saat berpapasan, keramahan mereka, menunjukkan bahwa keberadaan saya, sedikit banyak diterima. Saya ingin berbuat sesuatu di sini, terutama untuk anak-anak. Namun masih bingung, harus memulai dari mana. Hehehe..... Begitulah. Dan ternyata, Allah mempertemukan saya dengan bumi Kedungreja ini, membawa sebegitu banyak hikmah yang dapat saya jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan ini. Terutama, yang paling saya rasakan adalah, sebuah pelajaran berharga: Bila ingin maju, jangan ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kesalahan dan kegagalan itu biasa. Jadikan itu sebagai bahan berharga untuk memperbaiki diri, mengawali hal-hal baru lainnya yang lebih baik, tanpa harus mengulangi kesalahan dan kegagalan serupa.
Perkembangan dan peningkatan ini, tak boleh berhenti hanya sampai di sini. Mari, terus berkarya. Untuk peningkatan kinerja kita sendiri, untuk peningkatan sekolah, untuk peningkatan mutu pendidikan di tanah air secara umum.
Bravo SD Negeri Kaliwungu 03!
Kamis, 12 Januari 2012
Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur...
Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nya aku kembali.
Ada hal baru dalam hidupku. Namun, yang baru ini, tidak sepenuhnya saya sukai. Apa itu? Keranjingan facebook.
Di satu sisi, saya senang, karena bisa mengakses kemajuan teknologi dengan lebih cepat dan mudah. Namun, di sisi lain, pikiran jadi tersedot terus ke si fb itu. Murah, memang. Tapi karena sering, pulsa jadi cepet habis. Ujung-ujungnya, boros. Untuk hal yang satu ini, saya belum bisa mengatasi. Astagfirullaah... Padahal, boros itu perilaku syaitan, kan? Whaduh, apa bedanya sekarang, saya dengan syaitan?
Saya berharap, ada di antara sidang pembaca yang sudi berbagi tips. Bagaimana caranya, bisa tetap fb-an setiap hari lewat hp, tapi pulsa juga bisa tetap aman; tak cepat habis. Maturnuwun...
Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku setelah mematikan aku, dan kepada-Nya aku kembali.
Ada hal baru dalam hidupku. Namun, yang baru ini, tidak sepenuhnya saya sukai. Apa itu? Keranjingan facebook.
Di satu sisi, saya senang, karena bisa mengakses kemajuan teknologi dengan lebih cepat dan mudah. Namun, di sisi lain, pikiran jadi tersedot terus ke si fb itu. Murah, memang. Tapi karena sering, pulsa jadi cepet habis. Ujung-ujungnya, boros. Untuk hal yang satu ini, saya belum bisa mengatasi. Astagfirullaah... Padahal, boros itu perilaku syaitan, kan? Whaduh, apa bedanya sekarang, saya dengan syaitan?
Saya berharap, ada di antara sidang pembaca yang sudi berbagi tips. Bagaimana caranya, bisa tetap fb-an setiap hari lewat hp, tapi pulsa juga bisa tetap aman; tak cepat habis. Maturnuwun...
Kamis, 24 November 2011
CATATAN HARI INI
Senang sekali mengikuti kuliah bersama pak Sony tadi siang. Waktu dua jam kurang beberapa menit berlalu tanpa terasa lelah. Berhasil menebus rasa lelahku setelah menempuh perjalanan di kendaraan umum selama kurang lebih 3 jam. Penat sekali. Tapi mengikuti kuliah pak Sony yang sarat pesan, penjelasan juga gamblang, membuat kepenatan itu sirna. Thanks, sir...
Pak Sony, yang meskipun dalam keterbatasan geraknya; tetap memiliki semangat juang yang sangat luar biasa. Tiga point dalam perkuliahan metode penelitian tadi siang:
Sikat dulu, pikir belakangan...
Apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya
Tentang yang pertama: Sikat dulu, pikir belakangan.
Sederhana saja penjelasannya: Saat ada tawaran/ tantangan/ konsep/ pilihan/, segera putuskan untuk mengambilnya. Segala hal ihwal yang menyertai keputusan tersebut, pasti akan ada jalan keluarya. Tuhan menitipkan otak dan akal pada kita untuk digunakan sebagaimana mestinya. Dan tidak mungkin juga, kan, Tuhan menelantarkan kita sendiri. Begitulah pesan beliau di akhir perkuliahan tadi, saat memaparkan contoh dari alasan mengapa memilih judul penelitian tertentu dengan sangat panjang, lebar, dan gamblang. Terasa begitu berat untuk dijalankan. Lalu meluncurlah pernyataan yang penuh bobot motivasi tersebut. Thanks. sir...
Lalu, apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Pernyataan tersebut juga berangkat dari adanya reaksi muka kami setelah pemaparan contoh rumusan masalah yang pak Sony buat. Dalam pemaparan tersebut, banyak sekali buku-buku yang dijadikan sebagai bahan referensi dalam setiap kalimat yang dipaparkan beliau. Wah wah wah.... Secara, kami ini mahasiswa NR, sudah tua-tua (hehehe...) tentu saja merinding mendengar dan melihat pemaparan yang seperti itu. Muka kami kontan berkerut dan berkerenyit begitu pak Sony menyelesaikan penjelasannya. Menyaksikan wajah kami yang sangat tidak indah dipandang, pak Sony dengan bijaksana melontarkan kalimat motivasi tersebut: "sebenarnya mudah, ibu-ibu, bapak-bapak, yang penting, apapun rumusan masalah yang kita pilih, yang penting memiliki argumentasi yang jelas, memiliki dasar teoritis yang kuat, sehingga hasil penelitian kita bisa bagus dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara jujur dan terbuka. Sehingga akhirnya, bisa membawa manfaat yang besar untuk kemajuan semuanya, terutama bagi objek penelitian kita. Begitu...."
Dan yang terakhir, apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya.
Ini agak mirip sama yang di atas, hanya ini bedanya begini. Yang kedua tadi itu, argumentasi/ dasar teori sebagai dasar kita menulis sebuah penelitian. Nah, sementara yang terakhir ini, bukti yang dapat kita utarakan saat kita memaparkan penelitian yang sudah kita tulis tersebut. Misalnya, ada pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Buktinya apa? Tentu saja harus ada daftar nilai yang bisa memperlihatkan adanya perbandingan nilai antara nilai A dan nilai B tersebut. Nah, daftar nilai itulah yang dimaksud sebagai bukti tentang pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Begitu....
Hari yang indah. InsyaAllah besok lebih indah lagi. Thanks, Sir...
Pak Sony, yang meskipun dalam keterbatasan geraknya; tetap memiliki semangat juang yang sangat luar biasa. Tiga point dalam perkuliahan metode penelitian tadi siang:
Sikat dulu, pikir belakangan...
Apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya
Tentang yang pertama: Sikat dulu, pikir belakangan.
Sederhana saja penjelasannya: Saat ada tawaran/ tantangan/ konsep/ pilihan/, segera putuskan untuk mengambilnya. Segala hal ihwal yang menyertai keputusan tersebut, pasti akan ada jalan keluarya. Tuhan menitipkan otak dan akal pada kita untuk digunakan sebagaimana mestinya. Dan tidak mungkin juga, kan, Tuhan menelantarkan kita sendiri. Begitulah pesan beliau di akhir perkuliahan tadi, saat memaparkan contoh dari alasan mengapa memilih judul penelitian tertentu dengan sangat panjang, lebar, dan gamblang. Terasa begitu berat untuk dijalankan. Lalu meluncurlah pernyataan yang penuh bobot motivasi tersebut. Thanks. sir...
Lalu, apapun pilihan kita, yang penting punya argumentasinya
Pernyataan tersebut juga berangkat dari adanya reaksi muka kami setelah pemaparan contoh rumusan masalah yang pak Sony buat. Dalam pemaparan tersebut, banyak sekali buku-buku yang dijadikan sebagai bahan referensi dalam setiap kalimat yang dipaparkan beliau. Wah wah wah.... Secara, kami ini mahasiswa NR, sudah tua-tua (hehehe...) tentu saja merinding mendengar dan melihat pemaparan yang seperti itu. Muka kami kontan berkerut dan berkerenyit begitu pak Sony menyelesaikan penjelasannya. Menyaksikan wajah kami yang sangat tidak indah dipandang, pak Sony dengan bijaksana melontarkan kalimat motivasi tersebut: "sebenarnya mudah, ibu-ibu, bapak-bapak, yang penting, apapun rumusan masalah yang kita pilih, yang penting memiliki argumentasi yang jelas, memiliki dasar teoritis yang kuat, sehingga hasil penelitian kita bisa bagus dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara jujur dan terbuka. Sehingga akhirnya, bisa membawa manfaat yang besar untuk kemajuan semuanya, terutama bagi objek penelitian kita. Begitu...."
Dan yang terakhir, apapun yang kita katakan, yang penting ada buktinya.
Ini agak mirip sama yang di atas, hanya ini bedanya begini. Yang kedua tadi itu, argumentasi/ dasar teori sebagai dasar kita menulis sebuah penelitian. Nah, sementara yang terakhir ini, bukti yang dapat kita utarakan saat kita memaparkan penelitian yang sudah kita tulis tersebut. Misalnya, ada pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Buktinya apa? Tentu saja harus ada daftar nilai yang bisa memperlihatkan adanya perbandingan nilai antara nilai A dan nilai B tersebut. Nah, daftar nilai itulah yang dimaksud sebagai bukti tentang pernyataan bahwa si A nilainya lebih baik dari si B. Begitu....
Hari yang indah. InsyaAllah besok lebih indah lagi. Thanks, Sir...
CATATAN KEMARIN
Wednesday, November 16, 2011 4:48:20 PM
Hari ini, jadwal ngajarku di SD Negeri Kaliwungu 03. Dan saya benar-benar menikmati ritme sehari ini. Bersama anak-anak yang ceria dan penuh semangat menyambut tawaran scenario pembelelajaranku, membuat hatiku tidak merasa lelah sama sekali. Masuk di kelas IV, mengoptimalkan hafalan anak-anak dengan mengkondisikan mereka pada suasana kompetisi. Ternyata, tak seorangpun anak yang mau untuk benar-benar kalah. Semua ingin menjadi yang pertama. Dan ini sangat menyenangkan. Membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, memberikan tugas untuk menghafalkan materi, dan menagih hafalan mereka dalam ajang kompetisi. Maka, acara menghafalkan ketentuan salat (syarat sah, syarat wajib dan sunnah salat) menjadi sangat menyenangkan. Dimulai sekitar jam 07.15, dan saat jarum jam menunjuk angka 09.00, seolah tak mau berhenti dari proses pembelajaran. Betapa menyenangkan.
Lalu, kelas VI pun tak mau kalah. Belajar dalam kelompok, dituntut kekompakan dan kerjasama yang benar-benar tulus. Sama seperti di kelas IV, anak-anak kelas VI pun tak ada yang mau untuk kalah. Alhasil, acara menghafalkan surat al-Maidah ayat 3 beserta artinya, menjadi sangat menangtang dan menyenangkan. Apalagi, pulangnya bergiliran sesuai hasil kompetisi hari itu. Waow! Mengapa tak sedari dulu saya menyadari ini semua, ya? Makasih saya ucapkan pada Pak Nurmuludin. Atas segala ide, pemikiran, masukan, saran, contoh, bukti, dan lain sebagainya. Jujur, sejujurnya saya ingin mengajak anak-anak lebih senang belajar. Tapi bingung harus dengan cara apa. Wah, ternyata ada cara sederhana namun cukup bisa diharapkan. Yakni, memaksimalkan kerja kelompok. Dan itu, harus dilakukan dengan TELATEN. Tak boleh jemu. Bahkan dituntut untuk mengembangkan terus kreatifitas agar anak-anak semakin tertarik belajar. Thanks a lot, Sir…
Lalu, belajar bersama anak-anak kelas III. Mencoba memperdalam materi BTQ. Ya, suasana pembelajaran benar-benar cermin dari suasana hati. Hati yang semangat, penuh motivasi, harapan, dan cita-cita, akan melahirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Betapa senangnya melihat anak-anak; yang meskipun tidak bisa; namun tetap memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan, dan tanpa malu tetap mau belajar.
Dan yang terakhir, latihan pesta siaga bersama beberapa anak kelas IV. Wah, benar-benar, deh. Dulu, bila melihat anak yang lambat berpikir, pasti segala cap negative akan menempel dengan begitu mudahnya pada anak-anak tersebut. Tapi tadi sore, ajaib. Entah energy apa yang sedang merasuki saya hari ini. Melihat anak-anak tak langsung bisa melafalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir, saya bisa menerimanya dengan sangat lapang. Bahkan, tertawa. Catet! TERTAWA! Seolah, saya merasa sedemikian bebas, tak ada beban sama sekali. Rasa kemakluman saya begitu besar hari ini. Segala salah anak, saya maafkan. Hehe…
Begitulah. Intinya, apa yang kita pikirkan, itu yang akan kita alami. Bila pikiran-pikiran positif yang menguasai hati kita, maka yakinlah bahwa pengalaman kita pun akan menjadi sangat positif. Anak-anak, sungguh saya sangat mencintai kalian. Love u….
Hari ini, jadwal ngajarku di SD Negeri Kaliwungu 03. Dan saya benar-benar menikmati ritme sehari ini. Bersama anak-anak yang ceria dan penuh semangat menyambut tawaran scenario pembelelajaranku, membuat hatiku tidak merasa lelah sama sekali. Masuk di kelas IV, mengoptimalkan hafalan anak-anak dengan mengkondisikan mereka pada suasana kompetisi. Ternyata, tak seorangpun anak yang mau untuk benar-benar kalah. Semua ingin menjadi yang pertama. Dan ini sangat menyenangkan. Membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok, memberikan tugas untuk menghafalkan materi, dan menagih hafalan mereka dalam ajang kompetisi. Maka, acara menghafalkan ketentuan salat (syarat sah, syarat wajib dan sunnah salat) menjadi sangat menyenangkan. Dimulai sekitar jam 07.15, dan saat jarum jam menunjuk angka 09.00, seolah tak mau berhenti dari proses pembelajaran. Betapa menyenangkan.
Lalu, kelas VI pun tak mau kalah. Belajar dalam kelompok, dituntut kekompakan dan kerjasama yang benar-benar tulus. Sama seperti di kelas IV, anak-anak kelas VI pun tak ada yang mau untuk kalah. Alhasil, acara menghafalkan surat al-Maidah ayat 3 beserta artinya, menjadi sangat menangtang dan menyenangkan. Apalagi, pulangnya bergiliran sesuai hasil kompetisi hari itu. Waow! Mengapa tak sedari dulu saya menyadari ini semua, ya? Makasih saya ucapkan pada Pak Nurmuludin. Atas segala ide, pemikiran, masukan, saran, contoh, bukti, dan lain sebagainya. Jujur, sejujurnya saya ingin mengajak anak-anak lebih senang belajar. Tapi bingung harus dengan cara apa. Wah, ternyata ada cara sederhana namun cukup bisa diharapkan. Yakni, memaksimalkan kerja kelompok. Dan itu, harus dilakukan dengan TELATEN. Tak boleh jemu. Bahkan dituntut untuk mengembangkan terus kreatifitas agar anak-anak semakin tertarik belajar. Thanks a lot, Sir…
Lalu, belajar bersama anak-anak kelas III. Mencoba memperdalam materi BTQ. Ya, suasana pembelajaran benar-benar cermin dari suasana hati. Hati yang semangat, penuh motivasi, harapan, dan cita-cita, akan melahirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Betapa senangnya melihat anak-anak; yang meskipun tidak bisa; namun tetap memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan, dan tanpa malu tetap mau belajar.
Dan yang terakhir, latihan pesta siaga bersama beberapa anak kelas IV. Wah, benar-benar, deh. Dulu, bila melihat anak yang lambat berpikir, pasti segala cap negative akan menempel dengan begitu mudahnya pada anak-anak tersebut. Tapi tadi sore, ajaib. Entah energy apa yang sedang merasuki saya hari ini. Melihat anak-anak tak langsung bisa melafalkan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir, saya bisa menerimanya dengan sangat lapang. Bahkan, tertawa. Catet! TERTAWA! Seolah, saya merasa sedemikian bebas, tak ada beban sama sekali. Rasa kemakluman saya begitu besar hari ini. Segala salah anak, saya maafkan. Hehe…
Begitulah. Intinya, apa yang kita pikirkan, itu yang akan kita alami. Bila pikiran-pikiran positif yang menguasai hati kita, maka yakinlah bahwa pengalaman kita pun akan menjadi sangat positif. Anak-anak, sungguh saya sangat mencintai kalian. Love u….
Senin, 21 November 2011
Jangan bersedih...
Jangan bersedih. Demikian pesan al-qur`an pada kita. Tapi tetap saja saya merasa sedih. Apa pasal? Niate akan ngcopy data dari komputer ke flashdisk, tapi yang terjadi justru flashdisk-ku kebanjiran virus. Duh, jan. Mana ga ada yang ditanyai untuk mengatasinya bagaimana. Bingung. Sedih. Akhirnya, file yang sudah didapat belum dapat dikeluarkan. Repot juga tidak punya komputer dan akses komputer sendiri. Yah, selamat menikmati kebodohan diri. Makanya, belajar, biar ga sedih lagi. Padahal, itu file penting sekali. Sebagai bahan penyusunan tugas metodologi penelitian yang harus dikumpul hari kamis ini. Jangan sedih. Yang harus dilakukan sekarang adalah terus belajar.
Jumat, 14 Oktober 2011
CATATAN MALAM SABTU
Sepenuh syukur saya panjatkan ke hadirat Allah swt. Entah mengapa, saya merasa begitu bahagia malam ini. Mungkin, karena bisa nge-blog lagi, setelah sekian lama tidak menjangkau media berbagi ini.
Banyak hal terjadi selama satu tahun ini. Oh, bukan. Bahkan mungkin 1,5 tahun. Sangat lama. Cerita tentang perkuliahan, belum pernah saya kisahkan. Ya, sejak September 2010 yang lalu, saya kuliah lagi di STAIN Purwokerto. Gedungnya sudah tambah megah, program perkuliahan semakin banyak dan cuantik, dosennya tambah sip-sip, dan yang pasti, biaya tentu semakin mahal. Hehehe
Saya bersyukur, bisa mengenyam pendidikan kembali. Barangkali, teman-teman yang melihat aktivitas saya sekarang, heran. Bagaimana mungkin, dengan kegiatan yang padat (sebenarnya bukan padat, tapi sering bolak-balik saja. hehehe), saya masih bisa bilang 'sangat bahagia'.
Bayangkan saja, teman-teman. Senin-Rabu, saya full ngajar di SD. Kamis, hanya sampai jam 9 saya mengajar. Lalu cabut ke STAIN Purwokerto, yang jarak tempuh dengan kendaraan umum sekitar 3-4 jam. Lalu kuliah sampai malam. Jum'at pagi, saya sengaja mengosongkan jam mengajar di sekolah, karena Jum'at sore masih ada kuliah. Sekedar dengan pertimbangan untuk efektifitas waktu saja. Bolak-balik 6-8 jam, bukankah itu cukup menguras tenaga? Setengah hari Jum'at itu, saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan putri tersayangku (Azzahrotu Labibah; 22 bulan). Selepas Jum'at, berangkat ke STAIN Purwokerto lagi. Kuliah lagi sampai malam (sekitar jam 20.30 selesai). Lalu istirahat. Sabtu, jam 02.30, harus sudah ada di pinggir jalan raya menunggu bus yang akan mengantar ke tempat kerja. Bila agak siang sedikit saja, maka bisa dipastikan, akan semakin siang saya sampai di sekolah. Alhamdulillah, teman-teman kerja menyadari keadaan saya ini. Mereka maklum. Tapi yo moso, telat kok jadi kebiasaan. Ga enak juga lama-lama. Sabtu sore (sekitar jam 14.00), saya pulang ke rumah di Pekuncen. Bermalam minggu di rumah (meski kadang-kadang lembur di sekolah juga; artinya ga mudik), lalu Ahad pagi sampai siang, saya berkesempatan liburan penuh dengan anak dan suami. Ahad selepas dzuhur, saya kembali ke tempat kerja (dengan pertimbangan, agar Senin pagi tidak gugup). Demikianlah siklus setiap minggunya. Dan itu sudah berjalan berbulan-bulan, dan saya menikmatinya, dan Allah membukakan satu demi satu pintu keindahan dibalik kepayahan tersebut yang selama ini saya tidak menyadarinya.
Semua sudah ada jalurnya masing-masing. Pada kuliah yang tadi sore saya ikuti, ada satu kata kunci tentang RIZKI. Bahwa dalam Bahasa Arab, kata RIZKI ditulis dalam tiga huruf (Ra Za dan Qof). Ditransliterasikan: R Z K. Ternyata, RZK itu bukan tanpa makna. RZK memiliki makna ganda. Bisa berarti Rezeki, bisa juga berarti Reziko. Nah, jadi, dalam setiap rezeki yang kita terima, bukan semata-mata mengandung unsur kesenangan belaka. Namun, ada reziko juga di dalamnya. Ini artinya, kita diajarkan untuk berlaku sewajarnya saja (tiba tengah; orang jawa bilang). Senang ya sewajarnya. Karena, kesenangan itu pastilah untuk membeli sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan dibaliknya. Namun, sedih pun juga sewajarnya saja. Karena, dibalik kesedihan itu, pasti ada hikmah besar yang sering kita itu tidak tahu. Lho, lho, kok jadi nglantur.
Pokoknya, malam ini, saya bahagia bisa menulis lagi. Bisa berbagi lagi. Mudah-mudahan, ke depan, bisa lebih teratur menulis. Bisa menjadi penulis (karena kata pak Misbah barusan, seorang guru itu harus terbiasa menulis). Bisa menjadi peneliti (karena kata pak Sony kemarin, guru itu hendaknya piawai meneliti. Bukankah banyak permasalahan pendidikan yang harus dipecahkan???). Bisa menjadi manusia yang luar biasa (demikian kata pak Ridwan). Bisa menjadi guru yang benar-benar berkepribadian (demikian pak Nurfuadi dan pak Asdlori ngendika). Bisa menjadi sosok yang menghargai dan memanusiakan yang lain selayaknya (demikian pak Toifur mewasiatkan). Wah, pokoknya, kuliah S-1 ini, luar biasa, yah. Lebih banyak tantangan. Lebih banyak kesempatan untuk berkembang. Tinggal bagaimana memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Dan, besok pagi, jam 02.30, harus sudah di pinggir jalan raya, menunggu bus yang akan mengantarku ke tempat kerja. SEMANGAT! BISMILLAH!
Banyak hal terjadi selama satu tahun ini. Oh, bukan. Bahkan mungkin 1,5 tahun. Sangat lama. Cerita tentang perkuliahan, belum pernah saya kisahkan. Ya, sejak September 2010 yang lalu, saya kuliah lagi di STAIN Purwokerto. Gedungnya sudah tambah megah, program perkuliahan semakin banyak dan cuantik, dosennya tambah sip-sip, dan yang pasti, biaya tentu semakin mahal. Hehehe
Saya bersyukur, bisa mengenyam pendidikan kembali. Barangkali, teman-teman yang melihat aktivitas saya sekarang, heran. Bagaimana mungkin, dengan kegiatan yang padat (sebenarnya bukan padat, tapi sering bolak-balik saja. hehehe), saya masih bisa bilang 'sangat bahagia'.
Bayangkan saja, teman-teman. Senin-Rabu, saya full ngajar di SD. Kamis, hanya sampai jam 9 saya mengajar. Lalu cabut ke STAIN Purwokerto, yang jarak tempuh dengan kendaraan umum sekitar 3-4 jam. Lalu kuliah sampai malam. Jum'at pagi, saya sengaja mengosongkan jam mengajar di sekolah, karena Jum'at sore masih ada kuliah. Sekedar dengan pertimbangan untuk efektifitas waktu saja. Bolak-balik 6-8 jam, bukankah itu cukup menguras tenaga? Setengah hari Jum'at itu, saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan putri tersayangku (Azzahrotu Labibah; 22 bulan). Selepas Jum'at, berangkat ke STAIN Purwokerto lagi. Kuliah lagi sampai malam (sekitar jam 20.30 selesai). Lalu istirahat. Sabtu, jam 02.30, harus sudah ada di pinggir jalan raya menunggu bus yang akan mengantar ke tempat kerja. Bila agak siang sedikit saja, maka bisa dipastikan, akan semakin siang saya sampai di sekolah. Alhamdulillah, teman-teman kerja menyadari keadaan saya ini. Mereka maklum. Tapi yo moso, telat kok jadi kebiasaan. Ga enak juga lama-lama. Sabtu sore (sekitar jam 14.00), saya pulang ke rumah di Pekuncen. Bermalam minggu di rumah (meski kadang-kadang lembur di sekolah juga; artinya ga mudik), lalu Ahad pagi sampai siang, saya berkesempatan liburan penuh dengan anak dan suami. Ahad selepas dzuhur, saya kembali ke tempat kerja (dengan pertimbangan, agar Senin pagi tidak gugup). Demikianlah siklus setiap minggunya. Dan itu sudah berjalan berbulan-bulan, dan saya menikmatinya, dan Allah membukakan satu demi satu pintu keindahan dibalik kepayahan tersebut yang selama ini saya tidak menyadarinya.
Semua sudah ada jalurnya masing-masing. Pada kuliah yang tadi sore saya ikuti, ada satu kata kunci tentang RIZKI. Bahwa dalam Bahasa Arab, kata RIZKI ditulis dalam tiga huruf (Ra Za dan Qof). Ditransliterasikan: R Z K. Ternyata, RZK itu bukan tanpa makna. RZK memiliki makna ganda. Bisa berarti Rezeki, bisa juga berarti Reziko. Nah, jadi, dalam setiap rezeki yang kita terima, bukan semata-mata mengandung unsur kesenangan belaka. Namun, ada reziko juga di dalamnya. Ini artinya, kita diajarkan untuk berlaku sewajarnya saja (tiba tengah; orang jawa bilang). Senang ya sewajarnya. Karena, kesenangan itu pastilah untuk membeli sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan dibaliknya. Namun, sedih pun juga sewajarnya saja. Karena, dibalik kesedihan itu, pasti ada hikmah besar yang sering kita itu tidak tahu. Lho, lho, kok jadi nglantur.
Pokoknya, malam ini, saya bahagia bisa menulis lagi. Bisa berbagi lagi. Mudah-mudahan, ke depan, bisa lebih teratur menulis. Bisa menjadi penulis (karena kata pak Misbah barusan, seorang guru itu harus terbiasa menulis). Bisa menjadi peneliti (karena kata pak Sony kemarin, guru itu hendaknya piawai meneliti. Bukankah banyak permasalahan pendidikan yang harus dipecahkan???). Bisa menjadi manusia yang luar biasa (demikian kata pak Ridwan). Bisa menjadi guru yang benar-benar berkepribadian (demikian pak Nurfuadi dan pak Asdlori ngendika). Bisa menjadi sosok yang menghargai dan memanusiakan yang lain selayaknya (demikian pak Toifur mewasiatkan). Wah, pokoknya, kuliah S-1 ini, luar biasa, yah. Lebih banyak tantangan. Lebih banyak kesempatan untuk berkembang. Tinggal bagaimana memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Dan, besok pagi, jam 02.30, harus sudah di pinggir jalan raya, menunggu bus yang akan mengantarku ke tempat kerja. SEMANGAT! BISMILLAH!
Langganan:
Entri (Atom)
